Advertisemen
Kodrat manusia yang saling terpengaruh dan mempengaruhi pun semakin terlihat jelas dengan kemajuan teknologi informasi, lantas dengan apa mereka menyuguhkan pemikirannya agar didengar dan dibaca oleh manusia lainnya sehingga pada akhirnya, mereka dengan rela hati mengikuti apa yang sedang dipikirkannya. Salah satunya adalah, dengan tulisan hal itu bisa terwujud. Masih segar dalam memori kita, seorang Lenin, pemimpin sebuah imperium besar abad dua puluh yang bernama Uni Soviet. Keterpengaruhan dia akan pemikiran-pemikiran Karl Marx lah yang menjadikan dia mampu mendirikan sebuah negara adikuasa yang selalu menjadi momok bagi barat sampai di penghujung tahun '80an, kita bisa membayangkan bagaimana seandainya seorang Karl Marx tidak mendedahkan buah pikirnya kedalam sebuah tulisan.
Akan pentingnya sebuah tulisan, ilmuan-ilmuan dan sarjana muslim sendiri pun telah memberikan teladan yang baik dalam dunia tulis menulis, dengan berjibunnya khazanah keislaman yang berisikan karya-karya monumental mereka, kita bisa menikmati dan terus mengkaji pemikiran-pemikiran mereka dalam berbagai disiplin ilmu. Setelah beraratus-ratus tahun, kita masih bisa mengetahui bagaimana proses dialog antara Muktazilah dan Ahlu Sunnah tentang permasalahan teologi yang terangkum manis dalam buku-buku Ulama Ilmu Kalam, tanpa catatan-catatan tertulisitu kita tidak akan mampu mengetahui bagaimana Hiwar Mashur antara dua Ilmuan beda zaman Imam Ghazali dan Ibnu Rusd berlangsung. Tanpa literatur-literatur yang ditinggalkan oleh filosof-filosof Yunani, kisah kemajuan ilmu pengetahuan Islam yang dimotori oleh Al-kindi, Ibnu Sina, Al-Farobi mungkin hanyalah sebuah mitos belaka. Bahkan kemajuan peradaban barat sekarang pun tidak lepas dari karya-karya Averoes (Ibnu Rusd) yang menjadi sumber inspirasi bagi ilmuan-ilmuan barat abad pertengahan dalam merumuskan kemajuan peradaban mereka. Kita bisa memprediksi apa yang telah terjadi jika para cerdik cendekia tersebut tidak mengabadikan buah pikirnya dalam sebuah tulisan.
Kalau kita melihat lebih jauh kebelakang, kita akan mendapati bagaimana kaum-kaum terdahulu mengabadikan momen-momen terbaik dalam kehidupan mereka dalam sebuah tulisan, seperti yang kita dapati pada prasasti-prasasti atau monumen yang mereka tinggalkan, tak lain adalah untuk menunjukkan kepada generasi yang akan datang bahwa keberadaan mereka eksis dan benar-benar ada dan benar-benar tercatat dalam sejarah. Tanpa tulisan-tulisan tersebut kita tidak akan mampu mengetahui sejarah, tidak akan mampu mempelajari sebab-sebab kejayaan suatu kaum, dan bagaimana kejayaan tersebut bisa hancur. Maka tidak heran untuk mengetahui rahasia kehidupan di zaman Firaun, seorang peneliti dari perancis yang bernama Champoleon rela menghabiskan waktunya untuk mempelajari huruf-huruf Hyreogliph yang tergores pada tembok kuil-kuil dan prasasti-prasasti peninggalan raja-raja Mesir kuno. Tulisan adalah sejarah itu sendiri, sehingga masa sebelum diketemukannya sebuah tulisan disebut masa prasejarah dan awal mula dimulainya sebuah masa sejarah berbanding lurus dengan masa awal mula diketemukannya sebuah tulisan.
Mungkin kita sedikit prihatin jikalau menilik kondisi sekeliling kita saat ini, dimana gairah kepenulisan sangat lesu, mungkin kita belum tahu betapa pentingnya sebuah tulisan dalam mewarnai kehidupan, sebagian dari kita mungkin juga beranggapan bahwa menulis itu sangat sulit, tidak tahu harus memulai dari mana, tidak tahu apa yang harus ditulis. Begitulah, begitu banyak asumsi tentang kesulitan dalam menulis, khususnya bagi mereka yang baru memulai dunia tulis menulis.
Anggapan inilah yang mungkin menjadi penyebab lesunya minat menulis dikalangan kita, takut untuk memulai, merasa rendah diri, merasa tidak mampu dan takut ditertawakan. Meskipun kita sebagai pemula, sebenarnya dalam memori kita tersimpan beribu memori, ide-ide yang bahkan bisa melebihi para penulis profesional, cuma keterampilan dalam eksplorasi dan pengekspresian saja yang kurang. Disamping itu rasa percaya percaya diri juga menjadi kendala utama, sehingga banyak dikalangan kita berhenti sebelum mencoba, menyerah sebelum berjuang dan cita-cita menjadi penulis handal pun hanya angan-angan belaka, keinginan yang tidak pernah ada usaha untuk diwujudkan.
Untuk mengatasi hal ini salah satu cara yang paliang sederhana adalah menuliskan keseharian kita dalam diary, atau kalau diary sudah dianggap out of date maka kita bisa memilih blog sebagai gantinya, mari kita mencoba menggerakkan jemari kita diatas keyboard menuliskan pengalaman-pengalaman menarik, pemandangan konyol yang kita jumpai, kejadian lucu yang kita alami. Ini bisa membantu kita untuk memilah pikiran kita, melatih kemampuan kita merangkai susunan kata dan menemukan ide-ide dalam merangkai cerita. Dengan melakukankanya secara terus menerus dan berkesinambungan maka kemampuan menulis kita dengan sendirinya akan mengalami kemajuan. Disamping meningkatkan skill individu dengan berlatih, kita juga harus memperbanyak referensi bacaan, karena dengan membaca, kita mampu menambah input informasi sebagai bahan yang akan kita curahkan dalam tulisan, selain itu membaca juga mampu membentuk karakteristik gaya kepenulisan kita.
Jika kita ingin turut mewarnai sejarah peradaban manusia, maka menulis adalah kuncinya, seorang filosof dan pemikir besar pun tidak akan berpengaruh dan diketahui keberadaannya bila tidak mentransformasikan pemikirannya dalam sebuah karya tulis, ingatan manusia terbatas, maka dengan tulisanlah kita bisa merujuk kembali dan mengkaji ulang sebuah teori dan dengan tulisan pula kita bisa menghadirkan kembali kejayaan yang pernah kita raih. Dengan menulis, kita juga bisa menjadikan hidup kita lebih terkendali, mengubah hari-hari kita kenjadi lebih menyenangkan dan selalu merasa lebih baik. Carilah waktu dan tempat khusus untuk menulis. Bangunlah pada pagi hari dan menulislah dalam keheningan rumah Anda. Menulislah secara rutin dan lihat hasilnya. Menulislah dengan bebas, galilah pikiran dan perasaan itu saat muncul didalam pikiran anda. Jadi tunggu apa lagi, marilah menulis.
Add Comments